Dulu
kami melukis langit dan membebaskan imajinasi itu lepas membumbung tinggi. Aku
melihat awan yang seperti benua amerika , raja bersikeras dengan awan yang
berbentuk eropa . sementara Atang tidak yakin dengan kami berdua dan sangat
percaya bahwa nagan itu berbentuk Afrika. Baso malah melihat semua ini dalam
konteks Asia. Sedangkan Said dan Dulmajid sangat Nasioanalis, awan itu
berbentuk peta negara kesatuan Indonesia. Dulu kami tidak takut bermimpi, walau
sejujurnya kami tidak tau bagaimana merealisasikanya . tapi lihatlah hari ini
setelah mengerahkan segala ikhtiar dan menggenpkan dengan doa, Tuhan mengirim
benua kepelukan masing masing. Kunfayakun , maka sebuah awan
impian , kini hidup nyata. Kami berenam telah berada di 5 negara yang berbeda.
Di lima negara impian kami. Jangan pernah meremehkan impian, walau setinggi
apapun. Tuhan sungguh maha mnedengar. Man jadda wa jadda barang siapa
yang bersungguh sungguh akan berhasil.
“Negri
5 Menara” A novel by A. Fuadi
Kataku mimpi
bukanlah hal yang tidak mungkin. Mimpi adalah sahabat penggerak langkah dan
roda kehidupan yang makin berat. Semakin tinggi mimpi, semakin besar energi
yang akan diberikan oleh mimpi itu untuk kita. Karena tinnginya mimpi itu kita
pasti semakin bekerja lebih dan lebih keras setiap harinya. Semua itu dilakukan
hanya untuk meraih dan menggenggam mimpi itu untuk orang yang kita sayangi.
Makasih buat
yang udah buat novelnya. Semoga Allah membalas semua kebaikan anda.
J

Tidak ada komentar:
Posting Komentar